Percakapan Singkat Seputar Kesetaraan Gender

  • A: Aku pikir, pria dan wanita di era modern sekarang ini adalah sama.
  • B: Maaf, menurutku tidak ada seorang pun wanita yang masih merasa “normal” ingin dikatakan sama dengan pria, dan tidak ada seorang pun pria yang masih merasa “normal” mau dikatakan sama dengan wanita, pria adalah pria, wanita adalah wanita. Sampai kapan pun mereka tetap berbeda secara fitrah dan tabiatnya.
  • A: Akan tetapi bukankah Islam sudah mengajarkan konsep seperti ini?
  • B: Ya, Islam memang sudah mengenal konsep kesetaraan gender. Akan tetapi, konsep yang Islam tawarkan bukanlah kesetaraan secara kuantitatif 50/50.
  • A: Lalu konsep kesetaraan seperti apa yang Islam tawarkan?
  • B: Coba kita kaji kembali QS. An-Nahl: 97 "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan."
  • A: Oh jadi konsep kesetaraan gender dalam Islam itu adalah dengan memberikan kesempatan yang sama kepada pria dan wanita untuk mendapatkan pahala.
  • B: Ya begitulah. Dan ingatlah bahwa Alloh telah memberikan kita porsinya masing masing. Coba kita kaji QS. An-Nisaa: 32 "Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu."
  • A: Kenapa yaa, ko bisa ada orang yang sampai berpikiran seperti itu?
  • B: Laah bukannya kamu berpikiran seperti itu sebelumnya? Hehe. Menurutku pemikiran semacam ini muncul dari wanita wanita penuh emosional yang selalu mengedepankan hawa nafsunya. Padahal hal ini telah dijelaskan dalam QS. Yusuf: 53 "Sesungguhnya nafsu (manusia) itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku". Semua feminis yang berpaham liberal seperti itu hanya menuntut hal hal yang enaknya saja.
  • A: Misalnya?
  • B: Dalam urusan pekerjaan, mereka ingin disetarakan dengan kaum pria. Akan tetapi, dalam urusan seperti KDRT mereka ingin dianggap sebagai wanita seutuhnya.
  • A: Lantas apa yang sebaiknya kita lakukan?
  • B: Sebaiknya kita menjadi sebuah pelita dalam kegelapan yang dapat menyeimbangkan opini semacam ini. Kalo menurut pak Adian Husaini, betapa pun kecilnya, upaya ini harus dilakukan, agar di tengah ’kegelapan’ dan banyaknya ’fitnah’ masih ada secercah pelita yang menjadi petunjuk jalan bagi orang-orang yang berjuang mencari kebenaran. Kita yakin, kebenaran pasti akan menang. Meskipun, secara individual, bisa saja pejuang kebenaran menderita kekalahan. Yang penting, kata Prof. Hamka, ”Biar kalah, asal kita tidak salah!”

Janganlah menjadi seorang perempuan yang banyak menuntut, akan tetapi jadilah seorang wanita yang bertindak secara nyata dalam memberikan manfaat selagi tidak menyimpang dari koridor kodrat yang telah Alloh berikan.

Berikut ini beberapa link mengenai Hari Kartini:

1. http://insistnet.com/mengapa-harus-kartini/

2. http://insistnet.com/mitos-kartini-dan-rekayasa-sejarah/